
Diambil dari situs Brigif Linud-3 TBS.
Nama yang tak asing lagi bagi prajurit JULISIRI yaitu CPL SELSIUS WORABAI biasa dipanggil pak KASUARI.Dia adalah salah satu putra papua yang pertama ikut tergabung dalam kontingen garuda.Dia memang orang yang berdedikasi tinggi,loyal,dan punya banyak prestasi yang ia rai sehingga Dia pantas di pilih ikut dalam KONTINGEN GARUDA XXIII-B/UNIFIL.Selain itu juga Dia mempunyai kelebihan di luar dari tugas pokoknya yaitu ARSITEK BANGUNAN.dan Dia juga tidak perna ketinggalan dalam penugasan dalam negeri seperti penugasan operasi di PAPUA sebanyak Enam kali penugasan.operasi SEROJA TIM-TIM sebanyak Tiga kali dan operasi DARMIL NAD sebanyak Dua kali penugasan. PAMPRES di AMBON dan lain-lain.Tak diherankan pula CPL CELSIUS yang mempunyai anak Tiga ini mampu bersaing dengan negara-negara lain yang tergabung dalam Perdamaian di Lebanon yaitu dalam pertandingan power Game dan Billiyard Dia merai juara Tiga se UNIFIL.Salah satu putra papua yang telah mengharumkan nama baik Bangsa ini patut mendapatkan penghargaan dari UNITED NATIOS dan Tanda jasa dari Negara.
Juga, tidak sedikit anak bangsa ini yang menjadi korban akibat kemajemukan, bahkan oleh penampilan negara itu sendiri. Setidaknya, mereka tidak bisa membuat KTP. Orang Dayak yang bertato tidak bisa masuk TNI, padahal tato bagi Suku Dayak adalah lambang kejantanan. Begitu pula, etnis Tionghoa tidak bisa beribadah di kelenteng (baru sejak pemerintahan Gus Dur etnis Tionghoa bisa ritual kembali di kelenteng).
Karena itu, ke depan, yang terpenting adalah kejelasan konsep bagaimana kebhinekaan ini dikelola. Apakah kita akan meneruskan gaya Orde Baru, di mana yang bhineka itu diudek jadi satu, atau yang bermacam-macam ini cukup dibingkai, dan bingkai itu bernama Indonesia.
Agar bingkai tersebut kuat, hanya ada satu syarat, yaitu ketika negara menjamin kesetaraan terhadap setiap individu, kelompok, daerah, golongan, etnis, budaya, dan juga agama. Ke depan tidak boleh lagi model lama diteruskan. Dulu karena alasan SARA orang diciduk dan belakangan ini negara membiarkan, bahkan terlibat dalam penzaliman sesama warga negara atas nama aliran sesat.
Manfaat Negara
Nasionalisme ke depan tidak mungkin lagi didasarkan hanya pada ikatan imajiner karena sama-sama dijajah Belanda dan Jepang. Bangsa ini juga harus berani menghentikan model lama dalam pengelolaan negara yang justru merusak rasa nasionalisme tersebut.
Karena itu, atas nama nasionalisme, pemegang lisensi proyek-proyek infrastruktur haruslah orang Indonesia. Dalam kenyataannya, cara itu tidak membawa manfaat bagi rakyat sama sekali. Keberadaan pemegang saham orang dalam negeri yang hanya bermodal lisensi tersebut justru membuat waktu ROI (return of invesment) menjadi bertambah panjang.
Artinya, untuk mengembalikan dana investasi, rakyat dibebani tambahan beberapa tahun. Hanya bermodal ''lisensi'' dan sedikit dana eksplorasi, pemegang saham sektor pertambangan bisa mengeruk uang dalam jumlah sangat besar dari money market. Sementara pemda setempat, sekadar untuk membangun rumah sakit di sekitar wilayah pertambangan tersebut, harus mencari pinjaman atau investor.
Ke depan, kita juga tidak boleh terkecoh oleh kelompok tertentu yang mengatasnamakan nasionalisme gigih memperjuangkan upaya menasionalisasi tambang-tambang yang kini dikuasai asing. Jangan sampai kelak hanya memindahkan kepemilikan saham dari ''Londo'' kulit putih beralih ke ''Londo'' kulit hitam. Sebab, dalam era kekinian, yang terpenting adalah model pengelolaan tambang agar secara langsung bermanfaat bagi rakyat banyak.
Maka, nasionalisme ke depan haruslah didasarkan pada manfaat negara. Sepanjang negara membawa manfaat bagi segenap rakyat tanpa kecuali, niscaya negaranya akan dibelanya. Apalagi kalau republik ini bisa berpenampilan sebagaimana negara-negara sahabat, jangankan fakir-miskin, pengangguran saja dijamin oleh negara, pendidikan gratis, kesehatan ditanggung negara, dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain.
Masih Kurang Cukup?